Kau yang Berjasa
Semenjak kecil saya tinggal di Aceh, tetapi karena saya melanjutkan kuliah ke salah satu sekolah kedinasan di Jakarta akhirnya saya merantau ke Jakarta. Pada saat saya sampai ke Jakarta banyak hal yang baru saya mengerti bahwa ternyata Ibukota sangat kejam seperti yang dikatakan orang. Ketika pertama kali melihatnya hati saya sangat ngilu, contohnya seperti orang yang sudah tua renta dan sakit sakitan berjualan tisu yang harganya cuman dua ribu rupiah sambil duduk di pinggiran stasiun kereta api. Ada lagi orang yang menjual aksesoris handphone di jembatan penyeberangan yang bahkan mungkin dalam sehari pun belum tentu ada yang laku. Bahkan anak-anak kecil sekalipun sudah disuruh orang tuanya untuk berjualan keliling, biasanya di persimpangan lampu merah kita sering melihat pemandangan seperti ini. Pemandangan yang membuat hati ngilu. Saya sangat mengharagai mereka yang berusaha daripada mereka yang meminta-minta.
Semenjak saya kuliah di Jakarta saya tinggal di kost-kostan bersama teman-teman saya. Sudah setahun lebih saya tinggal di Jakarta yang tepatnnya di Pondok Betung yaitu tempat diantara perbatasan antara Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan yang berarti perbatasan antara Banten dan Jakarta. Semenjak saya tinggal disini Banyak sekali Usaha Mikro Kecil Menengah di sekitar sini yang sangat membantu bagi masyarakat di sekitarnya. Seperti tukang sayur yang sudah berkeliling di pagi hari, tukang yang berjualan nasi uduk juga dari pagi buta, tukang sol sepatu, penjual gorengan, toko kelontong, odong-odong, warteg, pembeli barang bekas, dan lain-lain. Usaha-usaha diatas saya lihat sangat membantu, seperti ibu-ibu yang mau memasak di pagi hari lansung mengerumuni ibu tukang sayur yan
g berjualan, anak-anak kost pasti membeli nasi uduk yang murah harganya, dan anak-anak warga sekitar bermain menaiki odong-odong pada sore harinya. Dalam hati kecil saya, saya ingin memberdayakan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah ini agar nantinya menjadi usaha yang besar dan mandiri. Karena saya sering melihat usaha yang dari kecil saya berjualan di gerobak hingga saya besar pun masih berjualan di gerobak. Berarti ini menunjukkan bahwa usaha tersebut tidak berkembang.
g berjualan, anak-anak kost pasti membeli nasi uduk yang murah harganya, dan anak-anak warga sekitar bermain menaiki odong-odong pada sore harinya. Dalam hati kecil saya, saya ingin memberdayakan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah ini agar nantinya menjadi usaha yang besar dan mandiri. Karena saya sering melihat usaha yang dari kecil saya berjualan di gerobak hingga saya besar pun masih berjualan di gerobak. Berarti ini menunjukkan bahwa usaha tersebut tidak berkembang.
Di sini saya akan menceritakan pelaku UMKM yang paling berjasa bagi saya, yang pertama adalah penjual sol sepatu keliling. Pada hari itu saya mengikuti latihan basket rutin di kampus saya. Latihan hari itu dipersiapkan untuk pertandingan dua hari lagi kedepannya. Sialnya pada hari itu sol sepatu basket saya terlepas karena sudah sangat lama saya menggunakan sepatu itu. Keesokan harinya saya kebingungan untuk mencari tukang sol sepatu. Saya sudah bertanya ke warga sekitar, warga sekitar tidak mengetahui tempat memperbaiki sol sepatu. Di tengah keresahan yang terjadi tiba tiba ada bapak-bapak yang sudah agak tua berteriak dari luar " sol sol sol". Saya pun lansung berlari keluar dan menghampirinya. Dalam hati saya, saya sangat bersyukur karena jika tidak ada bapak ini saya tidak tahu harus kemana lagi.
Ketika bapak itu sedang memperbaiki sepatu saya, saya meminta nomor handphone bapak itu, siapa tau saya membutuhkan bapak itu lagi di lain waktu. Alangkah terkejutnya saya ketika bapak itu menjawab "saya tidak punya handphone nak". Saya lansung berpikir di zaman yang serba modern ini dan semua orang mempunyai handphone atau smartphone tetapi bapak ini tidak memilikinya. Padahal handphone sudah bisa dibilang suatu kebutuhan pokok saat ini. Kasihan bapak ini setiap hari berjalan di tengah teriknya mata hari tetapi handphone saja tidak punya. Berarti pendapatan bapak ini di bawah kata kecukupan, hanya cukup untuk makan mungkin. Saya sangat ingin memberdayakan bapak ini, tapi apalah daya saya yang hanya masih mahasiswa perantauan. Akhirnya saya membayar uang sol sepatu saya lebih sedikit hitung-hitung membantu bapak tukang sol untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Setelah bapak tukang sol sepatu pelaku UMKM yang berjasa bagi saya adalah penjual nasi goreng keliling. Saya sering sekali bergadang bersama teman-teman untuk mngerjakan tugas kampus yang tidak tanggung-tanggung diberikan oleh dosen. Ditengah lelahnya mengerjakan tugas terkadang saya sering merasakan lapar. Kalau sudah begini saya pasti menunggu tukang nasi goreng keliling yang sudah menjadi langganan saya. Bapak ini biasanya berjualan sampai tengah malam dan saya sudah hafal biasanya sekitar pukul dua belas malam bapak ini lewat di depan kosan saya. Akhirnya dengan makan nasi goreng memberikan energi baru bagi saya untuk kembali mengerjakan tugas-tugas kuliah saya tadi.
Selain yang diatas yang paling besar saya rasakan manfaatnya adalah toko kelontong di dekat kostan saya.Toko kelontong ini menyediakan apa saja yang saya butuhkan. Mulai dari alat mandi, alat tulis, makanan ringan, pulsa, dan kebutuhan lainnya. Tanpa toko kelontong ini mungkin saya akan kewalahan mencari kebutuhan sehari-hari yang saya butuhkan. Dengan adanya toko ini semua kebutuhan saya sehari-hari dapat terpenuhi.
Ketiga pelaku usaha diatas sangat berjasa bagi kehidupan saya. Seperti tukang sol sepatu yang memperbaiki sepatu saya sehingga saya tetap bisa mengikuti pertandingan basket. Lalu ada penjual nasi goreng keliling yang selalu setia melewati kost saya, dan dengan nasi goreng yang saya makan membuat saya bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas saya. Lalu ada lagi toko kelontong yang menjual kebutuhan saya sehari-hari.
Semuanya adalah jasa-jasa yang mereka berikan kepada kita yang mungkin tanpa kita sadari jasa mereka begitu besar kepada kita. Saran saya belilah barang-barang mereka karena pendapatan mereka semakin berkurang semenjak kehadiran pasar-pasar modern. Dan diantara mereka ada yang ekonominya di bawah kata cukup.
Dengan menabung di Bank BTPN memalui program daya. Berarti kita telah turut memberdayakan para pelaku UMKM. Program Daya adalah salah satu komitmen dari Bank BTPN untuk memberdayakan mass market.
Untuk simulasi menabung dalam program ini, kita dapat mengklik link ini http://www.menabunguntukmemberdayakan.com
1. Setelah kita mengklik link yang diberikan akan muncul halaman seperti ini
2. Ketika kita mengklik mulai simulasi, maka kita akan diminta untuk login menggunakan akun facebook atau dengan cara manual.
Ketika bapak itu sedang memperbaiki sepatu saya, saya meminta nomor handphone bapak itu, siapa tau saya membutuhkan bapak itu lagi di lain waktu. Alangkah terkejutnya saya ketika bapak itu menjawab "saya tidak punya handphone nak". Saya lansung berpikir di zaman yang serba modern ini dan semua orang mempunyai handphone atau smartphone tetapi bapak ini tidak memilikinya. Padahal handphone sudah bisa dibilang suatu kebutuhan pokok saat ini. Kasihan bapak ini setiap hari berjalan di tengah teriknya mata hari tetapi handphone saja tidak punya. Berarti pendapatan bapak ini di bawah kata kecukupan, hanya cukup untuk makan mungkin. Saya sangat ingin memberdayakan bapak ini, tapi apalah daya saya yang hanya masih mahasiswa perantauan. Akhirnya saya membayar uang sol sepatu saya lebih sedikit hitung-hitung membantu bapak tukang sol untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Setelah bapak tukang sol sepatu pelaku UMKM yang berjasa bagi saya adalah penjual nasi goreng keliling. Saya sering sekali bergadang bersama teman-teman untuk mngerjakan tugas kampus yang tidak tanggung-tanggung diberikan oleh dosen. Ditengah lelahnya mengerjakan tugas terkadang saya sering merasakan lapar. Kalau sudah begini saya pasti menunggu tukang nasi goreng keliling yang sudah menjadi langganan saya. Bapak ini biasanya berjualan sampai tengah malam dan saya sudah hafal biasanya sekitar pukul dua belas malam bapak ini lewat di depan kosan saya. Akhirnya dengan makan nasi goreng memberikan energi baru bagi saya untuk kembali mengerjakan tugas-tugas kuliah saya tadi.
Selain yang diatas yang paling besar saya rasakan manfaatnya adalah toko kelontong di dekat kostan saya.Toko kelontong ini menyediakan apa saja yang saya butuhkan. Mulai dari alat mandi, alat tulis, makanan ringan, pulsa, dan kebutuhan lainnya. Tanpa toko kelontong ini mungkin saya akan kewalahan mencari kebutuhan sehari-hari yang saya butuhkan. Dengan adanya toko ini semua kebutuhan saya sehari-hari dapat terpenuhi.
Ketiga pelaku usaha diatas sangat berjasa bagi kehidupan saya. Seperti tukang sol sepatu yang memperbaiki sepatu saya sehingga saya tetap bisa mengikuti pertandingan basket. Lalu ada penjual nasi goreng keliling yang selalu setia melewati kost saya, dan dengan nasi goreng yang saya makan membuat saya bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas saya. Lalu ada lagi toko kelontong yang menjual kebutuhan saya sehari-hari.
Semuanya adalah jasa-jasa yang mereka berikan kepada kita yang mungkin tanpa kita sadari jasa mereka begitu besar kepada kita. Saran saya belilah barang-barang mereka karena pendapatan mereka semakin berkurang semenjak kehadiran pasar-pasar modern. Dan diantara mereka ada yang ekonominya di bawah kata cukup.
Dengan menabung di Bank BTPN memalui program daya. Berarti kita telah turut memberdayakan para pelaku UMKM. Program Daya adalah salah satu komitmen dari Bank BTPN untuk memberdayakan mass market.
Untuk simulasi menabung dalam program ini, kita dapat mengklik link ini http://www.menabunguntukmemberdayakan.com
1. Setelah kita mengklik link yang diberikan akan muncul halaman seperti ini
2. Ketika kita mengklik mulai simulasi, maka kita akan diminta untuk login menggunakan akun facebook atau dengan cara manual.
3. Setelah kita login kita dapat memulai simulasi dengan memasukkan berapa tabungan kita dalam sebulan dan menentukan dalam jangka berapa lama kita menabung. Contohnya saya memasukkan tabungan sebesar 1 juta dalam sebulan dan dalam sepuluh tahun saya memperoleh hasil tabungan sebesar kurang lebih 156 juta
Sekian tulisan dari saya. Semoga dengan tulisan ini dapat menambah kesadaran dan dapat menghargai para pelaku UMKM. karena jasa mereka sangat besar tanpa kita sadari. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pelaku UMKM yang telah berjasa di dalam hidup saya.
Sekian tulisan dari saya. Semoga dengan tulisan ini dapat menambah kesadaran dan dapat menghargai para pelaku UMKM. karena jasa mereka sangat besar tanpa kita sadari. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada para pelaku UMKM yang telah berjasa di dalam hidup saya.



kalo menurut gua ya mam, sebagian dari mereka itu bisa jadi kerja karena hobi dan sesuai kenyamanannya, contoh gua pernah tau kakek yang sering bersih2 di pondok dulu ehh taunya kakek itu punya anak yg udah jadi kyai, katanya "ga pngen repotin ank2 saya". ya mungkin para mereka itu seneng2 aja dengan kerja sederhana mereka. lagian juga itu bikin merekanya mudah dijangkaukan? kaya yang elu tulis tadi, kalau tukang nasi goreng keliling ga ada? emang lu bakal nyari cafe 24 jam buat nyari makan ? :D atau tukang sol dan kelontong kan kalo di kostan cuma kehabisan sabun misalnya.. masa harus ke mall.. bisa tekor per jamnya lu.. mah usaha mikro biarkan mikro aj itu kan jadi penyeimbang, asal kitanya tau cara ngehargain mereka.. kalo kata ayah gua nih mam hehe "ngasih duit itu jgn sering2 ke orang kaya" jadi kalo ya sekiranya lebih gampang ke tukang sayur keliling ngapain ke supermarket, kalo sepatu masih bisa di sol ngapain nyari yang ratusan ribu lagi, kalo toko kelontong ada ngapain harus kemana2
BalasHapusiya ga? :o
iya bener juga sih wik, tapi kan kita harus memberdayakan mereka. Karena gk semuanya ekonominya mencukupi. Maksud tulisan aku adalah supaya mereka itu ekonominya tercukupi dan hidupnya bahagia
BalasHapusitu aja sih hehehe
gue setuju sama belanja di org yg membutuhkan jgn di swalayan atau supermarket
BalasHapusGimana kalo UMKM sprti mereka dibuatkan jadwal ngetem dan jadwl nya itu di informasikan ke warga sekitar sprti via mading poster atau bahkan baliho.. Jadi klo kita mau nyari mereka jd lbh mudah.. Kyk pas mau nyari tukang sol, ada jadwal nya : jam 8-9 pagi ngetem dpan sekolahan, jam 10-12 keliling kampung, jam 12-13 ngetem di masjid.. Dan selanjut nya....
BalasHapussalah satu ide yang bagus
Hapusakan tetapi biasanya mereka sudah memnuat jadwalnya sendiri jan
seperti penjual roti yg slalu lewat di depan kosan saya sekitar jam 8 malam
Good luck, gan! :)
BalasHapusMakasih yaa :)
Hapus