Senin, 06 Maret 2017


Fly Over Jamin Ginting



Selamat malam semuanya, bertemu lagi dengan saya humam maulana, semoga dengan tulisan kali ini bisa mengobati rasa kangen kalian dengan saya yaa (di tahan dulu muntahnya hahaha). Pada tulisan kali ini saya akan menceritakan sebuah kisah yang menurut saya penuh dengan perjuangan pada kehidupan ini dan kisah ini membuat air saya terjatuh (jarang-jarang loo cowok nangis) benar-benar seperti menonton kisah sedih di acara tv yang membuat penontonnya mengharu biru, namun kali ini saya merasakan sendiri dengan nyata.

Saya sangat menjaga kebugaran tubuh saya dengan berolahraga, biasanya saya ke gym minimal 3 kali dalam seminggu, dan saya hobby berlari (jogging) bahkan di smartphone saya ada aplikasi Nike Running yang merekam setiap saya berlari. Hobby ini bermula ketika saya sedang menunggu masa-masa pkl dari kampus. Pada saat itu teman-teman saya pada pulang ke kampung halamannya masing-masing. Sehingga timbulah hobby baru saya ini yaitu jogging setiap sore.

Siang itu sepulang dari gym saya mampir ke kantor karena searah pulang dari gym sekaligus mengantar makan siang untuk teman-teman saya yang sedang berdinas kala itu. Setelah memberikan makan siangnya saya mengobrol santai dengan Security yang sedang berjaga, obrolah ringan dengan penuh canda membuat tawa tak henti-hentinya dari wajah saya dan abang-abangs security yang sedang berjaga. 

Siang itu jarum jam menunjukkan pukul tiga. Ketika sedang asiknya mengobrol datang seorang pria sekitar umur 50  tahunan permisi kepada kami meminta kunci pintu masjid depan kantor. katanya ia ingin shalat zuhur. Rasa penasara kami pun muncul melihat penampilan bapak ini yang lusuh memakai peci dan terlihat lelah, di tangan kanannya terlihat ada tatto membuat saya sedikit berpikir negatif terhadap bapak ini. "Bapak darimana?" tanya ku kepada bapak itu. "dari Subulussalam pak, baru tertipu, saya kerja di kebun sawit dijanjikan gaji, tetapi yang menyuruh kabur pak, saya jalan kaki sudah sebulan pak " awalnya saya agak ragu karena terlalu banyak modus penipuan yang telah terjadi di kota Medan ini, wajar jika saya agak sedikit waspada. Lalu bapak itu meminta air kepada kami dengan botol Aqua yang sudah kekuningan, lalu Bang Anggi salah satu security memberikan air dengan botol yang baru. "Bapak tinggal dimana?" tanya Bang Anggi kepada bapak itu. "di Tanjung Morawa pak". Saya pun bingung soalnya Tanjung Morawa hanya lurusan dari kantor saya hanya tinggal menunggu angkot. lalu Bang Anggi berkata "Bapak sekarang harus pulang, karena keluarga sudah menunggu di rumah", bapak iu menjawab "tidak apa-apa pak" bapak itu terlihat tidak mau merepotkan kami.

Bang Anggi memaksa bapak itu untuk pulang dengan sedikit berseloroh Bang Anggi mengatakan "ini tanggung jawabmu mam, bapak ini baru ditipu sama orang Aceh" aku pun hanya tertawa kecil dengan agak jengkel haha. Bang Anggi Menyuruh saya mengantar bapak itu sampai Fly Over Jamin Ginting dimana nanti bapak itu dapat naik angkot. Namun bapak itu tetap menolak dan akhirnya Bang Anggi benar-benar memaksa.

Akhirnya bapak itu mau diantar, saya benar-benar ragu waktu itu apa bapak ini modus atau beneran. Kalau tiba-tiba di motor saya di tikam dari belakang bagaimana?, itulah pikiran yang membayangi saya waktu itu, ditambah lagi tampilan bapak itu yang bertatto walaupun bapak itu pada saat itu berkalung tasbih dan memakai peci. Akirnya saya meletakkan barang-barang beharga saya di kantung depan jaket seperti smatphone dan lain-lain. selebihnya saya letakkan di tas belakang.

Saya menghidpkan motor dan menyuruh bapak itu untuk naik, ketika bapak itu mau naik tubuhnya bergetar seperti belum makan beberapa hari, Bang Anggi pun membantu bapak itu untuk naik ke motor, dan akhirnya saya mengantar bapak itu ke Fly Over. Saat di perjalanan saya banyak bertanya "Bapak sudah makan?", "Belum pak, saya cuma minum saja selama jalan kemari dari Aceh, makan pun kalau ada, tadi ada teh manis dikasih orang, semalam saya tersesat pak sampai ke Belawan numpang naik truk" Jauh sekali pikirku tersesat hingga ke Belawan, Belawan adalah daerah pelabuhan dimana teman saya Amry berdinas disana, kira kira saru jam dari kota Medan. Tentu saja rasa was-was saya belum hilang. Lalu bapak itu bercerita lagi "di Binjai saya minta bantuan kepada polisi pak, tapi saya malah di tendang pak" keterlaluan dalam hati saya, tetapi saya juga masih ragu apakah cerita yang bapak ini katakan benar atau tidak. walaupun dia sudah gemetaran menahan lapar. Kalau itu benar seharusnya oknum polisi sebagai penjaga dan pengayom masyarakat membantu bukan menendang manusia bagaikan binatang.

Singkat cerita sampailah saya di fly over. "Bapak belum makan kan?" saya memberikan uang kepada bapak itu "ini saya kasih uang, bapak makan dulu supaya kuat, sudah lama bapak belum makan kan, terus bapak naik angkot dari sini lurus aja, bapak tau kan angkotnya?" tiba-tiba mata bapak itu berkaca, ia mengusap air matanya, "terima kasih ya pak" disitu semua keraguan saya tadi hilang, berulang-ulang bapak itu mengucapkan terima kasih, bagaikan itu bantuan pertamanya selama perjalanan. Ketika dia sudah berjalan menuju angkot dia kembali memanggil saya "terima kasih, terima kasih banyak" katanya saya yang sudah membalikkan badan di atas motor menjawab "sama-sama pak" disitupun air mata saya tumpah dengan hati sesak"Astagfirullah, saya telah salah menilai bapak ini, saya hanya melihat luarnya saja, padahal bapak ini hanya ingin pulang bertemu keluarga di usianya yang tak lagi muda, apakah sekejam ini dunia ini sekarang ya Allah, dia ditipu, di tendang oleh polisi, tersesat, dan tak ada yang membantu" itulah gumamku dalam hati.

Lalu aku kembali lagi ke pos, setelah menceritakan ke Bang Anggi, Bang Anggi berkata "aku tau tadi kau ragu, coba kau bayangkan orang tuamu sekarang" kembali aku menangis walaupun kutahan. tak sanggup hati ini membayangkan.

Jadilah orang yang berguna bagi orang lain, yang dapat membantu orang lain. Benar jangan menilai orang dari covernya saja, bantulah sebisa kita, belilah dagangannya apabila dia berdagang, karena ia tidak mau meminta-minta, dan selalu bersyukur atas apa yang kita punya, lihat lah ke atas dan  ke bawah, karena jika kita hanya melihat maka kita tidak akan pernah merasa cukup, di atas langit masih ada langit, dan yang paling penting ingatlah selalu orang tua kita, karena ketika mereka sudah tidak ada akan timbul penyesalan, mengapa saya dulu begini begitu, karena saya sudah merasakan, maka selama masih bisa buat lah yang terbaik bagi orang tua kita hingga hanya senyuman yang ada di wajahnya.

Wasallam....

5 komentar: