Sabtu, 04 Maret 2017

My New Family


Berjumpa lagi dengan saya Humam Maulana, pada masih kenal kan dengan saya ...
sudah lama saya vakum dari menulis dan hari ini saya ingin memulainya lagi. Saya ingin menulis lagi karena terlalu banyak pengalaman sosial berharga yang saya dapatkan disini yang sangat disayangkan jika saya tidak membaginya kepada sesama. bahkan saya lebih banyak mendapatkan pengalaman sosial di bandingkan dengan ilmu MKG. banyak sekali hal yang ingin saya ceritakan, saya akan memisah-misah pertulisan supaya anda tidak bosan membacanya

pada tulisan kali ini saya akan menceritakan tentang seorang kakek sampah yang sudah tua. Akan tetapi sudah seperti ayah saya sendiri.
Kakek Sampah

Sebelumnya saya sudah menceritakan bahwa saya ngekos di Medan, di kosan tersebut terdapat sebuah gubuk kecil terletak di sudut kosan yang penghuninya kakek dan keluarga kecilnya. Konon ketika Kos-kostan ini di bangun pemilik kos (Pak Mastoh), Pak Mastoh memberikan izin tinggal kepada kakek sampah dan keluarganya.

Mengapa saya menyebutnya kakek sampah, karena memang pekerjaan sehari-hari kakek ini mengutip sampah mengunakan becak nya, mulai dari rumah ke rumah, termasuk rumah-rumah pegawai BMKG. yang nantinya sampah-sampah ini akan dipisah-pisah dan akan dijual secara kiloan.
ada berbagai macam jenis sampah yang dijual mulai dari botol-botolan, kertas, kardus, plastik dan semua yg dapat dijual lainnya.


Kakek dengan rambut palsunya menghibur kami

Kakek sampah lah yang menjamin keamanan kosan tempat saya tinggal. banyak kos-kostan lain di sekitar kos saya tinggal dimana sering terjadi kehilangan barang, mulai dari sepeda motor, bahkan hingga mobil, bisa dibilang kos saya aman karena jasa kakek sampah. Kakek sampah selalu berkeliling setiap malam dan kakek lah yang selalu mengunci gerbang pada malam hari. Terkadang saya merasa kasihan kepada kakek sampah, di mana usianya yang sudah tua yaitu 69 tahun kakek bekerja terlalu keras, bisa saya bilang kakek tidur hanyan 2 jam dalam seharian, dimana pada jam 4 subuh setelah bangun dari jaga kosan kakek lansung bersiap-siap mengutip sampah lagi.

Usia kakek sudah tidak muda lagi, akan tetapi yang membuat saya salut adalah kesehatan kakek yang masih sangat prima seperti anak muda. Giginya masih ada dan sehat, jarang saya melihat kakek sakit, dimana saya sering melihat orang dengan seusia kakek berjalan menggunakan tongkat, terkena penyakit modern seperti diabetes, stroke, asam urat dan lainnya. saya melihat kakek selalu tersenyum apapun situasinya, mau dia senang, susah, maupun sedih. Apabila terjadi hujan kakek pasti sudah siap dengan sikat nya untuk menyapu jalan depan kosan agar tidak kebanjiran.

Kakek sedikit bercerita, dahulu dia tidak seperti sekarang. Dahulu dia adalah orang jawa yang merantau ke Aceh tepatnya di Langsa. Seiring berjalannya waktu kakek sudah mempunyai rumah dan tanah disana, bisa dibilang sudah berada. Semenjak meletusnya perang Antara GAM dan TNI hidup kakek mulai tidak aman, apalagi suku kakek yang merupakan suku jawa yang mana GAM sangat sensitif dengan suku Jawa pada saat itu. Pada akhirnya kakek terkena pengusiran dan situlah kakek kehilangan harta bendanya, kakek pun merantau ke Medan dan memulai semuanya dari nol lagi. Pernah saya bertanya apakah kakek tidak mau kembali kesana lagi, jawaban kakek cukup membuat saya sedih, kakek menjawab tidak mau lagi karena dia trauma atas perlakuan yang pernah dia rasakan dulu.

kakek sedang menjaga kost-kostan

Anak-anak kakek juga sudah besar dan sudah pada menikah, dan juga tersebar, ada yang di medan ada juga yang di Aceh. terkadang anak-anak kakek juga mengunjungi kakek sekali-kali.

Sepulang kerja atau malam hari di waktu senggang saya pasti bercanda dengan kakek, bahkan bisa dibilang candaan saya kelewatan hahaha, akan tetapi pembawaan kakek yang seperti anak muda dan juga lucu membuat saya bercanda ria dengannya. Bahkan membuat segala beban mulai dari pekerjaan dan lainnya sirna. Apalagi sekarang teman penempatan saya yang di Belawan Amry juga sudah ngekos bersama saya yang juga sangat dekat dengan kakek membuat candaan kami semakin gila. Kami tertawa melupakan segalanya. tawa di wajah kakek tampak seperti kakek adalah orang yang tidak mempunyai beban apapun, larut dalam malam yang hening, dalam hatiku semoga kami bisa tertawa seperti ini melupakan segala beban terutama bagi kakek.

Tetangga di depan kamar saya juga sudah seperti keluarga saya sendiri. Mereka sekeluarga mempunyai dua orang anak. Terkadang mereka sering mengajak saya makan bersama seperti di film Fast and the Furious dimana Brian O'Conner sering diajak makan bersama keluarga kecilnya Dominic Toretto dimana dipenuhi dengan canda tawa. Begitulah kira-kira gambaran yang terjadi setiap makan malam. Dimana sehabis makan mulai lah lagi kami bercanda dengan kakek, memecah bahasa kesunyian malam.

Saya juga sering curhat kepada kakek tentang permasalah yang mungkin tidak dapat saya selesaikan sendiri, dimana kakek memberikan solusi solusi dengan bijak.

Kakek juga orang yang sangat legowo kalau kata orang jawa, dimana kejadian ini baru saja terjadi, becak yang satunya milik kakek hilang di curi orang. akan tetapi kakek menerimanya dengan lapang dada "iya kalau bukan rezeki kita biarkan saja, semua udah ada tempatnya sudah ada rezekinya" begitulah kata-kata yang keluar dari mulut kakek. Hati saya ngilu, mata saya berkaca, nafas saya sesak, masih ada orang seperti ini di dunia ini. Dimana banyak orang dengan rezeki berlimpah tidak pernah puas dengan hartanya, kakek yang serba kekurangan meng-ihklaskan becaknya begitu saja, padahal becak itu termasuk salah satu sumber rezekinya. dulu ketika saya baru tinggal di kosan ini saya juga melihat kakek banyak memelihara ayam, sekarang ayam-ayam itu sudah hilang entah kemana.
saya dan kakek
Begitulah sekilas cerita dari pengalaman saya disini, dimana saya mendapatkan seorang ayah angkat dan mendapatkan keluarga baru. semoga bermanfaat dan dapat kita ambil hikmah dari pengalaman saya ini

Wassalam....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar